Senin, 20 Agustus 2012

PERINTAH UNTUK BERTAKWA

photo by: bayu dwi arthanto putro


Saudaraku yang dirahmati Allah.
Saya berbagi pesan singkat tentang perintah Allah Swt tentang perintah bertakwa.  Ketika hari Jum’at, teentunya saudaraku sudah bersiap untuk melaksanakan shalat Jum’at. Bagi yang punya  waktu luang, tentunya berangkat dari rumah melakukan persiapan sebaik-baiknya dimulai dengan mandi dan memakai pakaian terbaik disertai wangi-wangian yang semerbak sesuai dengan tuntunan Rasul. Hati ini begitu bergembira menuju ke masjid meluruskan niat memenuhi perintah Allah Swt. Tidak kalah bagi yang sedang di kantor berusaha sebaik mungkin untuk hadir di masjid meskipun tidak sama yang berangkat rumah dalam kesiapan fisik tetapi kesiapan hati berbilang sama juga ingin melaksanakan perintah Allah dan meluruskan niat.
Rangkaian shalat Jum’at adalah mendengarkan khatib berkhutbah. Dan ketika khatib naik mimbar  dimulai dengan memuji kepada Tuhan serta shalawat kepada nabi Muhammad Saw dan inilah pesan awal di dalam khutbah. “Dari mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri, serta kepada para jamaah pada umumnya marilah senantiasa kita pertebal sikap iman dan taqwa. Allah Swt berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(Qs Ali Imran : 102).
Iman secara singkat dipahami sebagai kesadaran utuh yang terhunjam di kedalaman hati, keterhubungan antara hati, lisan dan perbuatan itulah yang dimaksud dengan makna iman sesungguhnya. Sedangkan ”takwa” secara sederhana adalah patuh atas segala perintah Allah dan menjauhi segala larang-larangannya. Oleh karena itu  kita  terus    berupaya   meningkatkan nilai-nilai takwa, karena memang hanya takwalah sebaik-baiknya bekal kita menuju hari akhir.
Demikian sepenggal ucapan khatib, yang selalu diucapkan diawal khutbah yang selalu menekankan perintah untuk bertakwa dan kemudian dilanjuti dengan tema-tema yang dikaitkan dengan kondisi kekinian.  Yaitu kondisi yang dihadapi umat dan upaya memperbaiki yang rusak dan meningkatkan kondisi yang baik supaya lebih baik lagi
Saudaraku yang dirahmati Allah.
JIka kita membaca Qur’an dengan seksama maka perintah untuk bertakwa merupakan seruan Allah mengandung perintah atau larangan dan  berbagai tuntunan yang harus dipatuhi.  Perkataan takwa di dalam Al Qur’an  dengan berbagai derivasi disebutkan seperti ittaqu, al muttaqin, taqiyya, yattaqun, ittaqi, wattaqunni, yattaqi dan al tqa. Jika diterjemakan dalam bahasa Indonesia maka derivasinya meliputi perkataan “takwa” diulang 13 kali, perkataan “bertakwa” diulang 135 kali, perkataan “bertakwalah” disebut 71 kali, perkataan “ketakwaan” disebut 2 dan perkataan “ketakwaannya” disebut 2 kali. Begitu pentingnya ketakwaan maka di perlukan penafsiran yang benar dan tepat, sebab dengan penafsiran yang tepat dan benar maka perwujudan takwa juga akan benar dan tepat.
Tafsir yang di sampaikan oleh Rasulullah saw dalam menafsiri firman Allah Ta’ala’ bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya (Ali Imran 102) dengan sabdanya : “ Yaitu agar Allah  dipatuhi dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufur. Sebenarnya sabda Rasulullah sudah lebih cukup untuk memahami apa yang dimaksud takwa. Namun demikian para sahabat dan para ulama menguraikan sabda Rasulullah Saw dengan caranya sendiri dengan maksud supaya lebih difahami dengan benar dan dilaksanakan secara benar pula. Inilah salah  satu contoh salah seorang sahabat menjelaskan tentang takwa.  Seorang sahabat Rasulullah Saw,  Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu takwa. Ubay balik bertanya : “Bukankah  Anda pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya, pernah.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah (contoh) takwa.”.
Membahas masalah takwa menjadi prioritas di dalam setiap momentum pencerahan kalbu.  Sehingga setiap muslim dalam menjalani kehidupan di dunia tiap langkah. tiap hirupan nafas diwarnai dengan sikap ketakwaaan. Oleh karena itu membahas masalah takwa bagaikan lautan tidak bertepi, para ulama sejak dulu sampai sekarang  sangat memperhatikan masalah takwa. Penekanan takwa terus di berikan baik secara lisan maupun dengan tulisan dalam bentuk buku yang jumlahnya hampir-hampir tidak terhitung.
Saudaraku, mari kita camkan nasehat seorang sufi yang bernama Syekh Abdul Qadir pernah memberikan nasihat berkaitan dengan takwa :
·   Jadilah kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati batas.”
·    Seseorang yang bertakwa akan meninggalkan dosa-dosa, baik kecil maupun besar. Baginya dosa kecil dan dosa besar adalah sama-sama dosa. Ia tidak akan memandang remeh dosa-dosa kecil, karena gunung yang besar tersusun dari batu-batu yang kecil (kerikil). Dosa yang kecil, jika dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar.
·     Tidak hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang ditinggalkan oleh orang-orang bertakwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa pun, jika itu meragukan, maka ditinggalkan pula dengan penuh keikhlasan.

Bertakwalah saudara-saudaraku mulai hari sekarang, hari ini dan inilah jalan keselamatan untuk menjadi orang beruntung baik di dunia dan diakhirat.
Wallahu ‘alam bish shawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar