Senin, 26 Mei 2014

PELAJARAN DARI ISRA’ MIRAJ NABI MUHAMMAD SAW




PELAJARAN DARI ISRA’ MIRAJ
NABI MUHAMMAD SAW

Bismillaahirrahmanirrahiim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)


Segala puji  bagi Allah seru sekali  alam, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan  kepada nabi Muhammad Saw, juga kepada seluruh keluarga,  sahabat-nya  dan seluruh pengikutnya

Saudaraku yang seiman dan seperjuangan menegakkan kalimah Allah.
Kita sekarang berada  berada di bulan  Rajab  dan kita  dalam beberapa hari lagi akan menemui bulan Sya’ban  kemudian beberapa minggu  ke depan kita akan bersua kembali dengan bulan yang penuh berkah,  Ramadhan Al-Mubarak. Di mulai dari bulan Rajab Rasulullah mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menyambut kedatangan tamu agung Ramadhan dengan berbagai persiapan istimewa demi menggapai kesempurnaan dan kebaikan dari Allah swt. yang berlimpah ruah
Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, baiknya kita merenung  sejenak peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rajab.  Peristiwa besar yang hanya terjadi sekali seumur kehidupan manusia adalah peristiwa Isra' dan Mi’raj  Rasulullah Saw. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah Saw di malam hari dari Masjdil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan Mi’raj berarti dinaikannya Rasulullah menghadap Allah di sidratil muntaha.
Peristiwa yang maha agung ini menunjukkan keagungan Rasul yang terpilih untuk menjadi subjek dalam peristiwa ini. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah Saw  menjadi imam sholat bagi seluruh para nabi sebelumnya. Keagungan Rasul ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan kita selaku umatnya dengan tetap mempertahankan dan memelihara kemuliaan tersebut dalam kehidupan kita.  Jika tidak, maka berarti kita telah mengotori kemuliaan tersebut. Apalagi dengan sengaja menyalahi aturan dan sunnahnya. Na’udzu biLlah.
Peristiwa isra’ dan mi’raj diabadikan oleh Al-Qur’an dalam surah yang dinamakan dengan peristiwa tersebut, yaitu surah Al-Isra’. Bahkan peristiwa inilah yang mengawali surah ini. Simaklah firman Allah swt.:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebe-saran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs Al-Isra’: 1).
Dalam riwayat Imam Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah senantiasa membaca surah ini bersama surah Az-Zumar pada malam hari.
Sudut pandang tentang isra’ dan mi’raj memang bisa beragam; dari kacamata akidah, isra mi’raj mengajarkan tentang kekuasaan Allah swt. yang tidak terhingga. Dari sudut pandang sains, mengajarkan bagaimana dunia keilmuan masih menyisakan teori ilmiah yang belum terkuak. Benarlah pernyataan tulus para malaikat Allah swt: “Mereka menjawab:
“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs Al Baqarah :32).
Dari sudut pandang moralitas, peristiwa ini mengajarkan bagaimana adab dan akhlak seorang hamba kepada Khaliqnya. Sungguh beragamnya sudut pandang ini menunjukkan keagungan peristiwa yang hanya sekali terjadi sepanjang kehidupan manusia, dan hanya terjadi kepada seorang insan pilihan, Rasulullah saw.
Sayyid Quthb menafsirkan ayat pertama dari surah Al-Isra ini dengan menyebutkan bahwa ungkapan tasbih yang mengawali peristiwa ini menujukkan keagungan-Nya, karena tasbih diucapkan ma-nakala menyaksikan atau melihat sesuatu yang luar biasa yang hanya mampu dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “bi’abdihi” adalah untuk mengingatkan status manusia (Rasulullah) dengan anugerahnya yang bisa mencapai maqam tertinggi sidratul muntaha, agar ia tetap sadar akan kedudukanya sebagai manusia meskipun dengan penghargaan dan kedudukan yang tertinggi sekalipun yang tidak akan pernah dicapai oleh seluruh manusia sampai hari kiamat.
Allah swt. memilih perjalanan isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah karena ada ikatan ideologis yang sangat erat; antara akidah Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad saw. Disamping ikatan kemasjidan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam konteks keutamaannya. Rasulullah mengingatkan: “Tidak dianjurkan mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid; Masjid Haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Aqsha di Palestina.” (Bukhari). Ini juga untuk mengingatkan umat Islam semua bahwa hubungan ideologis antara seluruh umat Islam dengan Palestina tidak boleh padam dan harus terus diperjuangkan.
Pelajaran yang dapat kita tarik dari peristiwa Isra’ Mi’raj nabi Muhammad saw, Hasan al Banna menguraikan dalam bukunya “ Kajian penting dalan sirah Nabi “, menjelaskan,
Pelajaran pertama : Allah Swt hendak memuliakan Nabi dan kekasihnya Saw, maka dipanggilnya (Muhammad) untuk diperlihatkan kepadanya kerajaan langit dan bumi. Isra’ mi’raj adalah kehendak Allah dalam pembentukan (pribadi) Muhammad Saw karena  Allah Swt, menyiapkan beliau untuk ustadznya para ustadz, dan dia menjadikan beliau sebagai sumber yang jernih, pemancar cahaya yang suci, nur ilmu dan hidayat yang abadi
Pelajaran kedua: “Allah  mewajibkan shalat  lima waktu. Ini adalah ketentuan dari Allah yang langsung diturunkan Nya dari atas langit ketujuh. Ini semua tidak lain adalah menunjukan kekuatan dan keutamaan shalat, “ barangsiapa telah mendirikan shalat berarti telah menegakkan  agama, dan siapa meninggalkan shalat berarti merobohkan agama.
Setiap peringatan peristiwa penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw sesungguhnya  kita berupaya untuk menemukan lagi kebeningan  dan  keteguhan  untuk  kita sendiri, yang mungkin telah terkikis atau bahkan lenyap oleh gemuruh kebudayaan  dan peradaban. Setelah kerasulan Muhammad saw,  Allah Swt tidak menurunkan Nabi lagi. Sementara zaman bergerak penuh dengan dinamika kehidupan antara yang baik dan buruk.  Oleh karena itu, para nabi yang merupakan lumbung-lumbung hikmah dan kearifan menjadi sangat penting untuk dihadirkan .

Semoga peringatan Isra’ Mi’raj memperkuat  motivasi kita menyongsong bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Menuju manusia yang sebenar-benarnya bertakwa.
Wallahu  ‘alam bish shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar