Sabtu, 29 Juni 2013

DIALOG IMAJINER DENGAN NURCHOLIS MAJID (ALM)



DIALOG IMAJINER
DENGAN NURCHOLIS MAJIDN (ALM)
TENTANG
TAKWA DAN PUASA

Bismillaahirrahmanirrahiim
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Saudaraku yang dirahmati Allah
Saat ini kita sedang menunggu-nunggu bulan Ramadhan. Pemberitaan di media masa tentang Ramadhan juga makin meningkat apalagi pemerintah selalu menyatakan sembilan bahan pokok tersedia, angkutan Ramadhan sudah siap, jalan Pantura siap sebelum bulan Ramadhan.  Bagi individu cara menyambut bulan Ramadhan pun berbeda-beda tingkat kesiapannya ada yang biasa-biasa saja, mungkin ada yang sedih dan sebagainya. Tetapi bagi orang beriman yang mengetahui tentang keutamaan bulan Ramadhan menghadapi bulan Ramadhan sangat bergembira seperti menyambut tamu agung. Maka diucapkanya “Marhaban ya Ramadhan”.

Dapat dibayangkan ketika Ramadhan tiba, suasana demikian semaraknya masjid-masjid penuh dengan jama’ah agak berbeda dengan hari-hari biasa, karena banyak orang mengetahui  inilah bulan yang sangat istimewa penuh rahmat dan barokah. Ini adalah ladaqng amal melaksanakan puasa dan berbagai ibadah dan kebajikan untuk meraih predikat takwa. Allah Swt berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs Al Baqarah : 183)

Nurcholish Madjid (alm) dalam berbagai pesan takwanya di Masjid Paramadina  menguraikan tentang puasa dan berbagai implikasinya. Untuk  memahami lebih  lanjut  pesan takwa berkaitan dengan puasa disajikan dalam bentuk dialog imajinair dengan Nurcholish Madjid (alm).  

Tanya : Di dalam surat Al Baqarah 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar kamu bertakwa.  Bagaimana puasa bisa mengantarkan kita kepada takwa?
Jawab (NM) :  Karena puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Paling personal.  Jika ibadah lain mudah tampak oleh mata, maka tidak demikian dengan puasa. Seorang mengerjakan salat atau tidak, bisa kita ketahui.  Kita  juga  bisa tahu, apakah seseorang  membayar zakat atau tidak. Orang yang beribadah haji lebih mudah lagi kita ketahui. Karena haji adalah ibadah yang sangat demonstratif. Tetapi, tidak  ada yang tahu kita benar-benar berpuasa, kecuali diri kita sendiri dan Allah Swt.

Tanya : Mengapa begitu  ?
Jawab (NM) :  Karena cukuplah puasa kita batal hanya dengan meminum seteguk air pada pada waktu  kita tak tahan dan sendirian. Dengan seteguk air yang kita mengharapkan untuk meringankan derita haus, maka seluruh puasa kita telah hilang. Hal itu hanya kita sendiri dan Allah swt yang tahu. Itulah sebabnya dalam sebuah hadis Qudsi,  dijelaskan : “ Dari Abu Shalih Az Zayyat, ia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman, “ setiap amal anak Adam bagi dirinya, puasa itu untukKu  dan Akulah yang menanggung pahalanya (HR Bukhari)

Tanya : Kata puasa yang kita pinjam dari bahasa Sansekerta, sebagai terjemahan dari kata shawm atau shiyam, mempunyai makna menahan diri. Apakah yang dimaksud menahan diri disini ?
Jawab (NM) :  Ibadah puasa adalah ibadah melatih menahan diri. Karena kelemahan manusia yang terbesar ialah ketidaksanggupan menahan diri. Ini dilambangkan dalam kisah kekek kita yaitu Adam. Ketika dia bersama isterinya Hawa dipersilahkan oleh Allah swt untuk tinggal di surga dan diberikan kebebasan untuk menikmati apa saja yang tersedia di surga. Semuanya boleh, hanya satu pohon yang tidak boleh. Allah sudah membuat perjanjian, namun Adam rupanya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam Al Qur’an.

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Qs Thahaa : 115)

Ini adalah drama kosmis yang melambangkan karakter manusia. Bahwa kelemahan manusia terletak ketidak mampuannya menahan diri dari golongan keserakahan. Dan kita adalah cucu Adam mempunyai potensi menjadi seperti kakek kita, jatuh tidak terhormat. Maka puasa bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa kita harus menahan diri.

Tanya  : Apa ukuran kita dapat menahan diri ?
Jawab (NM) : Ukuran puasa bukanlah lapar dan dahaga. Seolah-olah makin lapar dan semakin dahaga, pahalanya  semakin besar.  Tidak demikian. Pahala puasa tergantung kepada sikap jiwa. Dalam hadis disebutkan sebagai jiwa imanan wa ihtisaban. Yaitu, penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri. Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda “Barangsiapa berpuasa dengan penuh iman dan penuh instropeksi, maka seluruh dosanya dimasa lalu akan diampunkan oleh Allah (HR Bukhari).

Tanya : Apakah yang dimaksud penuh instropeksi disini ?
Jawab : Instropeksi diri adalah memeriksa diri sendiri dengan menanyai diri sendiri, dapat dilakukan dengan tafakkur, i’tikaf  serta melaksanakan shalat malam. Karena pada waktu itu adalah moment yang baik untuk bertanya secara jujur sebetulnya siapa saya ini ? Apakah betul saya ini orang baik ? Apa betul yang saya lakukan adalah benar-benar kebaikan ?

Tanya (NM) : Adakah contoh untuk memberikan gambaran deretan pertanyaan diatas ?
Jawab : Ada perumpamaan karikatural. Ketika rumah kita diketok orang yang meminta sedekah/uang lalu kita memberinya uang, ikhlaskah pemberian kita? Ataukah untuk mengusir orang itu supaya lekas pergi ? Ada satu batas yang kadang tidak tampak. Kelihatannya sedekah, tetapi sebetulnya perlakuan kasar. Karena kita menghendaki orang itu lekas pergi. Kadang-kadang kita katakan kepada anak kita atau pembantu kita “kasih orang itu uang biar lekas pergi.” Kelihatannya sedekah tapi sebetulnya mengusir.

Tanya : Apakah hikmah instropeksi diri dikatkan dengan puasa?
Jawab : Puasa menjadi kesempatan untuk instrospeksi total, sebetulnya siapa diri kita. Semua aktifitas perlambang bahwa kita tidak punya pretensi apa-apa.Tidak punya perasaan sebagai orang baik dan sebagainya. Hanya dengan instropeksi seperti itu taubat kita diterima  dan  kita mendapat petunjuk dari Allah   Swt.

Tanya : Mohon pesan terakhir supaya, puasa kita tidak sia-sia ?
Jawab (NM) :  Renungkan semua itu, agar supaya puasa kita betul-betul menjadi lebih baik. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari. Jangan sampai puasa kita sepanjang bulan Ramadhan lewat terhapus begitu saja oleh kesalahan kita. Nabi saw memperingatkan : Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan kotor maka Allah tidak punya keinginan apa-apa meskipun orang itu meninggalkan makan dan minum (HR Bukhari),

Saudaraku, renungkanlah dialog imajiner  ini supaya puasa kita tidak sia-sia, dan insya Allah predikat Takwa dapat kita raih.

Wallahu a'lam

Sumber bacaan

Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar